Content Writer
Limbah biomedis, yang juga disebut limbah medis atau limbah rumah sakit, merupakan jenis limbah yang mengandung bahan infeksius dan dihasilkan dari perawatan manusia atau hewan, serta dari penelitian biologi. Limbah ini mencakup bahan infeksius, seperti darah, jaringan tubuh, alat medis sekali pakai, jarum suntik, serta obat-obatan kedaluwarsa. Jika tidak dikelola dan dibuang dengan baik, limbah ini dapat menimbulkan risiko besar bagi kesehatan manusia dan lingkungan.
Pengelolaan limbah biomedis yang tidak tepat selama tahap pra-rumah sakit dapat memicu masalah kesehatan yang serius. Tanpa sistem yang terstruktur, limbah medis sering kali ditangani secara sembarangan, sehingga mempercepat penyebaran penyakit. Jenazah, alat bedah, dan perban yang terkontaminasi kerap dibuang ke tempat terbuka atau dibakar tanpa prosedur keselamatan yang memadai. Kurangnya sanitasi yang layak juga dapat menyebabkan pencemaran lingkungan dan sumber air. Selain itu, untuk menghemat sumber daya, peralatan medis sering digunakan kembali tanpa melalui proses pembersihan dan sterilisasi yang tepat, meningkatkan risiko infeksi.
Menurut WHO, limbah biomedis dapat dikategorikan ke dalam delapan jenis utama:
Saat pandemi COVID-19 mulai mereda di India, dampaknya masih terasa di berbagai aspek kehidupan. Lebih dari setengah juta orang meninggal, sistem kesehatan kewalahan, banyak orang mengalami kesulitan ekonomi, dan tumpukan limbah alat pelindung diri (APD) yang tak terpakai semakin menggunung.
Dari kejauhan, tempat pembuangan sampah di Delhi mungkin terlihat seperti bukit-bukit alami. Namun, ketika didekati, ternyata itu adalah gunungan sampah yang menjulang tinggi, dengan kawanan burung gagak yang berputar-putar di atasnya, mencari sisa makanan. Bau busuk dari sampah kota yang membusuk pun menyengat di udara.
Delhi memiliki beberapa tempat pembuangan sampah raksasa. Bhalswa menampung sekitar 8 juta ton sampah, Okhla sekitar 5,5 juta ton, dan Ghazipur mencapai 14 juta ton. Pada tahun 2019, tumpukan sampah di Ghazipur bahkan lebih tinggi dari Taj Mahal.
Sejak pandemi, tempat-tempat ini semakin dipenuhi oleh limbah medis, menciptakan lapisan baru sampah dari era COVID-19. Pengelolaan sampah di India memang sudah menjadi masalah lama, tetapi pandemi semakin menyoroti perlunya sistem pengelolaan limbah medis yang lebih baik. Sebelum pandemi, negara ini menghasilkan sekitar 619 metrik ton limbah biomedis per hari. Namun, selama pandemi, jumlahnya melonjak menjadi rata-rata 774 metrik ton per hari, bahkan mencapai 1.614 ton pada masa puncaknya—60% di antaranya berasal dari limbah COVID-19.
Pada 31 Mei tahun ini, untuk mengurangi limbah dari pengujian COVID-19, Otoritas Manajemen Bencana Delhi mengeluarkan kebijakan yang membatasi tes hanya boleh dilakukan di laboratorium pemerintah yang telah terakreditasi. Langkah ini memang mengurangi penggunaan alat uji mandiri di rumah, tetapi para ahli meragukan apakah kebijakan ini benar-benar bisa mengatasi masalah limbah medis yang terus meningkat di kota-kota besar.
Pengelolaan limbah biomedis melibatkan beberapa langkah penting untuk memastikan penanganan yang aman dan efisien. Berikut adalah ringkasan dari tahapan-tahapan tersebut:
Limbah biomedis harus dipisahkan langsung di tempat asalnya menggunakan kantong atau wadah yang diberi kode warna dan barcode. Standarisasi nasional dalam praktik pemilahan ini sangat penting, mengikuti pedoman dan peraturan pengelolaan limbah layanan kesehatan. Sistem kode warna yang seragam membantu mengidentifikasi risiko yang terkait dengan setiap jenis limbah, memudahkan pembuangan yang tepat, dan menjaga pemilahan selama proses pengangkutan, penyimpanan, pengolahan, hingga pembuangan.
Pra-pengolahan limbah biomedis bertujuan untuk mengurangi volume, berat, dan tingkat patogenisitasnya. Metode yang digunakan bergantung pada jenis, jumlah, dan potensi bahaya limbah tersebut. Beberapa metode umum meliputi:
Pengangkutan limbah di dalam fasilitas (intramural) merupakan langkah krusial dalam pengelolaan limbah biomedis. Proses ini melibatkan pemindahan limbah yang telah dipilah dari sumbernya ke area penyimpanan pusat. Untuk memastikan keselamatan dan mencegah kontaminasi:
Setelah pengangkutan, limbah biomedis harus diolah dan dibuang dengan benar. Ini dapat dilakukan melalui Common Biomedical Waste Treatment Facilities (CBWTF) atau fasilitas khusus yang dimiliki oleh institusi. CBWTF adalah fasilitas terpusat yang melayani beberapa unit kesehatan, sementara fasilitas khusus dikelola oleh institusi itu sendiri. Kedua jenis fasilitas ini harus mematuhi standar dan pedoman yang ditetapkan untuk memastikan pengolahan limbah yang aman dan ramah lingkungan.
Implementasi langkah-langkah di atas secara konsisten akan membantu dalam pengelolaan limbah biomedis yang efektif, mengurangi risiko kesehatan, dan dampak negatif terhadap lingkungan.
Limbah biomedis merupakan ancaman tersembunyi bagi kesehatan manusia dan lingkungan jika tidak dikelola dengan baik. Limbah ini mencakup berbagai jenis, seperti limbah infeksius, patologis, farmasi, radioaktif, dan lainnya. Pengelolaan yang buruk dapat menyebabkan penyebaran penyakit, pencemaran lingkungan, dan risiko infeksi.
Pandemi COVID-19 semakin memperburuk permasalahan limbah biomedis, dengan lonjakan produksi sampah medis di berbagai negara, termasuk India. Tumpukan alat pelindung diri yang tidak terpakai dan limbah dari fasilitas kesehatan meningkatkan beban tempat pembuangan sampah.
Untuk mengatasi permasalahan ini, pengelolaan limbah biomedis harus dilakukan dengan langkah-langkah yang tepat, mulai dari pemilahan di sumbernya, pengolahan awal limbah infeksius, pengangkutan yang aman, hingga pembuangan melalui fasilitas yang sesuai. Dengan sistem yang lebih baik dan kebijakan yang ketat, dampak negatif limbah biomedis terhadap lingkungan dapat dikurangi.
Tim Bumandhala Consultant Group.
Perusahaan Konsultasi Lingkungan dan Teknik.
Kunjungi situs web kami di https://bumandhalaconsultantgroup.com/